Advertisment

Allah, Indah Nian TeguranMu



Allah, Indah Nian TeguranMu 
(Catatan Dakwah Aktivis LDK)
Publikasi: 06/03/2004 16:01 WIB
 
Astaghfirullah! Mataku memanas, seluruh
persendian tubuhku terasa lemas. Segera kututup satu
demi satu situs internet yang ketelusuri dari tadi.
Buru-buru kurapikan disket dan kertas-kertasku, lalu
menuju kasir warnet. Ah, Allah ? kuatkan hambaMu. Di
komputer sebelah kasir, selintas kulihat
bayangannya. Allah ? Bantu hamba. 
 
Air mataku mulai menetes, saat langkahku kuayun
meninggalkan warnet. Aku bingung, harus kemana
melangkahkan kaki. Ke wartel ? tidak, aku tidak
sedang ingin curhat pada siapa pun saat ini. Pergi
rapat ? tidak, demi Allah, aku tidak ingin bertemu
dengan siapa pun saat-saat seperti ini. Kuputuskan
untuk pulang, aku ingin menghadap Allah memohon
ampunanNya. Air mataku terus mengalir di sepanjang
perjalanan. Tak kupedulikan tatapan heran
orang-orang di bus kota. Aku malu ? Allah, ampuni
aku. 
 
Ku basuh anggota wudhu?, lalu kubuka mushaf
Al-quran. Peristiwa tadi membayang kembali. Curhat
dengan seorang ikhwan lewat chatting.....
 
Sejenak aku tertegun, curhat? Kuingat lagi
kalimat-kalimat yang kutulis tadi. Ya Allah ? kenapa
aku sampai lalai? Astaghfirullah, tanpa sadar aku
telah membuka peluang bagi setan untuk ?meracuni?
hati ini.
 
Sebulan belakangan, amanahku memang menumpuk.
Seringkali aku sampai di rumah lebih jam delapan
malam, setelah seharian di luar. Itu pun masih harus
bergadang sampai jam 12 atau jam 1 malam.
Qiyamul-lail pun sering berlalu begitu saja, hampir
tak berbekas. Qiroah quran sekedar mengejar target.
Terasa Allah jauh dari hati. Sampai hari itu ? sejak
pagi kondisi kesehatanku sudah kurang baik, aku
tidak makan sejak malam. Beban pikiran pun menumpuk
karena banyak anggota yang tidak melaksanakan
amanahnya. Sorenya ada janji chatting. 
 
Selesai membaca beberapa halaman Al-quran, kutemui
seorang ukhti untuk minta taushiyah. Cukup lama
rasanya aku tak pernah mendapat taushiyah dari
akhwat. 
 
Di satu sisi, ukhti layak mengintrospeksi diri,
kenapa ini bisa terjadi? Jawaban paling mungkin
adalah hati ukhti sedang jauh dari Allah, dan
mungkin ikhwan tersebut juga sedang dalam kondisi
yang sama. Ana lihat, ibadah ukhti menurun
belakangan ini dan kondisi seperti ini memang
sangat rentan. Ana tahu, beban ukhti sekarang sangat
berat, dan ukhti tak punya teman berbagi, tak punya
senior tempat menumpahkan keluh kesah. Ana juga
minta maaf karena kesibukan selama ini, tidak bisa
banyak membantu. Tapi di sisi lain, ukhti masih
harus bersyukur. Antum masih dijaga Allah dari dosa
yang lebih jauh. Antum masih diberikan Allah
’kepekaan spiritual’ untuk bisa melihat kemaksiatan,
hingga antuma segera tersadar. 
 
Sekarang, banyak ikhwan dan akhwat yang terjerumus
dalam pergaulan tidak Islami. Rapat berdua, makan di
cafe satu meja, apalagi sekedar curhat-curhatan, itu
sudah biasa bahkan sampai masalah pribadi. Naudzu
billah, kalau kondisi ini menjadi penyebab jauhnya
pertolongan Allah dari dakwah yang kita lakukan
sekarang. 
 
Sekarang tinggal bagaimana ukhti menata hati lagi.
Ana yakin, ini adalah sebuah ’hadiah’ indah dari
Allah untuk anti, bahwa beban berat dakwah ini
menuntut kesiapan yang lebih besar. Ana yakin, anti
bisa menjaga hati, hanya saja kadang maksiat besar
berawal dari hal-hal kecil seperti tadi. Makanya
jangan sampai dianggap remeh. Sekali lagi, ana
yakin, ukhti termasuk orang-orang pilihan Allah.
Tegarlah ukhti, dan ? JAGA HATI EKSTRA HATI-HATI.
Ini yang pertama dan terakhir ya!  ;-).
 
Shalat maghrib kali ini terasa amat menentramkan.
Dengan sepenuh raja? dan khauf, kuhadapkan diri ini
pada Rabb semesta alam. Kurasakan kedamaian menjalar
bersama aliran darahku. Allah, betapa luas
rahmatMu, betapa Engkau telah menjagaku dari
kubangan dosa. Terasa teguran Allah melantun indah.
Seolah Allah menegurku untuk jeda sejenak, mengingat
kebesaranNya. Tiadalah manfaat setumpuk amal, kalau
niat tak ikhlas, dan caranya tak sesuai syariat.
Amal dan maksiat selamanya tak kan pernah bisa
berdampingan. Karenanya, para pelaku dakwah harus
senantiasa ’membasuh’ jiwanya, seiring perjalanan
dakwah yang dilalui. 
 
Spesial: buat ’ukhti kecilku’, jaga hati ya dek.
Jangan biarkan noda-noda hitam mengotori hatimu yang
Allah jadikan suci. Biarkan dakwah membawamu dekat
padaNya, bukan sebaliknya. Perjalananmu masih
panjang. Kakak masih setia di sini, menjadi tumpahan
gundahmu, setia menemani langkahmu menuju ridhoNya.
(Thanks for inspiration). Teruntuk juga buat
generasi penerus di kampus, ikhwan dan akhwat,
jagalah kemurnian dakwah ini dengan akhlak Islami.
Semoga Allah memudahkan jalan yang kita lalui. 
 
 
syahidah01
 
Ana pernah dikirimi taujih sama seseorang yang paling berarti dlm diri ana (MR pertama ana) insya Allah ini bisa menambah semangat kita:
 
Sesungguhnya aku dapati diriku dalam keadaan telanjang, kemudian Dia beri aku pakaian.
Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kebodohan, kemudian Dia beri aku lentera ilmu.
 
Sesungguhnya aku temui diriku dalam kelemahan iman, fisik dan mental, kemudian Dia beri aku keteguhan dankekuatan
Sesungguhya aku dapati diriku dalam kesesatan dankejahiliyahan, kemudian Dia memberi aku petunjuk.
 
Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kegelapan, kemudian Dia beri aku cahaya.
Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kebingungan, kemudian Dia beri aku jalan keluar.
Sesungguhnya aku dapati dirku dalam kehinaan dan kerendahan, kemudian Dia beri aku kemuliaan dan izzah serta iffah.
 
Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat kemanusiaanya di tengah manusia.
Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dankehidupan yang lebih baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif.
 
Mimpi-mimpiku hari ini adalah kenyataan hari esok.
Yang akan aku wujudkan dengan kerjasama dan azzam yang mantap. Kemudian bumi yang merana ini akan aku cerahkan dengan kesegaran embun fikrah yang aku miliki. 
 
Yang berkuasa tidak akan selamanya di pucuk pimpinan. 
Yang lemah tidak akan selamanya di bawah.
Yang berjuang akan menuai hasil gemilang dan berkah, aku pun terus bersiap untuk turut ambil bagian dalam perjuangan itu. 
 
Fikrahku ini akan menang jika kita memiliki iman kuat, tulus dan ikhlas, serta semangat yang berkobar dalam berjuang. Seorang pejuang memiliki empat ciri khas,yaitu iman, ikhlas, semangat dan amal.
 
 Dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas adalah hati yang suci murni, landasan semangat adalah perasaan yang kuat, sedangkan amal adalah tekat yang selalu segar.
 
Akan kupegang terus azzamku ini, karena sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.





0 comments:

Post a Comment

Next Older Post
Allah, Indah Nian TeguranMu